Selasa, 24 Januari 2017

Diary Perjalanan Teman Tapi Menikah (part 1)

Sekitar awal 2015, ketika lagi galau-galaunya karena satu per satu teman dekat menyebarkan undangan baralek, tiba-tiba suatu hari ada yang menanyakan...
Apak: “Lah gadang se kini ma ci, lah tamaik kuliah...?” 
Aku: “Tu iyo nyo Pak, makan taruyh ma, alah Pak.” 
Apak: “aaaa...samo anak Apak (kemenakan beliau) se lay baa? 
Aku: “hhahahhaaaa...(langsung ngakak), apo lah Apak (Adik Ayahnya, red) ko ko aaa...sambarang se Apak ma”. 
Kenapa ngakak? Karena anak yang dimaksud adalah teman semenjak rok masih dongker, waktu umur masih belasan dan dia saingan berat memperebutkan posisi no 1 di kelas. Entah celotehan si Apak ini serius atau hanya sekedar candaan semata. Tapi tetap terpikir rasa-rasanya sebuah ide gila kalau tiba-tiba dijodohkan dengan makhluk itu. Makhluk yang sepengetahuanku agak pendiam dan tak pernah ada cerita spesial bersamanya. Bercerita di kelas pun mungkin agak jarang, biasalah saingan, agak-agak jaim sikit. Padahal tiga tahun satu kelas di SMP sambung lagi satu tahun di SMA.
20 Februari 2015, aku menceritakan kembali percakapan di atas ke upiak @Widya Shut-up (bisa ingat tanggalnya karena waktu itu si upiak yang baik hati ini datang membawakan rujak es krim dan ada foto yang di upload dengan keterangan tanggal itu). Ehhh si upiak langsung mendukung  100%, “ndak baa tu do, ancak ma, cocok kamu jo inyo ma, nyo kan elok ma” . Dengan gaya sok super yakin aku langsung nyeletuk “eeee kok diajaknyo aku baralek kini ko aa, aku iyoan langsung ma, hahahaa”. Padahal semenjak lulus SMA sudah sangat jarang komunikasi dengan makhluk yang dimaksud. Berdasarkan penelusuran, terdeteksi hanya 3 kali pernah berkomunikasi dengannya melalui messenger. Sekali di tahun 2012 (18 November 2012), 2 kali di tahun 2015 (12 Juni dan 22 Oktober 2015). Ini sekilas cuplikan chat kita waktu itu, wkwk. 



November 2012

Juni 2015

Oktober 2015


Entah aku yang sombong atau dia yang sombong, padahal satu kelurahan, jarak rumah pun tidak terlalu jauh tapi tak pernah sekalipun ketemu. Ehh katanya sih pernah ketemu waktu buka bareng teman-teman SMA, katanya lagi nih waktu itu dia yang nganterin aku pulang (tapi aku nggak ingat, hohooo).  Cerita habis sampai disini, sekian bulan tak pernah lagi membahas tentang makhluk itu karena memang rasanya tidak ada yang perlu dibahas.

***
Suatu hari entah sengaja atau tidak, si Apak yang waktu itu menawarkan kemenakannya, lewat di depan rumah, ketemu Amak.
Apak: “lah ka baminantu lay ko?”
Amak: “Alun lay, alun ado kecek nyo lay do”
Apak: “Yo sabana alun, kalau alun ado, jo kawan lamonyo se lay baa?”
Amak: “alun lo ado dek yang disinan tu?kok alun, rancak bana”. (menurut cerita kurang lebih percakapannya begitu, aku tak tau persis karena waktu itu tak di rumah.)

Akhir 2015, waktu itu undangan baralek berdatangan hampir tiap minggu dan sebagian besar adalah undangan konco-konco arek, cc @Meri Darmawi @Endah Fratia. Waktu lagi ngumpul-ngumpul keceplosan lah menyebutkan bahwa mereka ini akan segera menuju pelaminan.
Aku: “Minggu bisuak si nenek @endah fratia baralek, minggu bisuak ciek lai nyo ii @Meri Darmawi lo lay”.
Amak: “aaaa nenek alah tu aaa, ii iyo lo, nan awak bilo?beko tingga se surang lai.” (ndeehh manga lah dicaritoan lo tadi, kan kanai jadinyo).
Aku: “Kan masih banyak yang alun ma, masih ado Marta, Widya alun lo.” (cengengesan dan senyum-senyum kecut aja).
Amak: “jo kawan lamo se lai baa??”
Aku: “Siaaaaaaa???” (kageett)
Amak: “Kawan lamoooo...(emak ketawa nyengir...). Saingan barek dulu...”
Aku: “Wuahahaa...sambarang se, jaleh nyo kawan urang, maso jo inyo lo, ado-ado se ma.”
Cerita-cerita lagi dengan @Widya Shut-up dan dia masih tetap dengan pendiriannya mendukung 100% (ehh iya 100% kan??). Hahahaa...

April 2016, gara-gara ganti DP BBM,makhluk yang selama ini dibahas yang sekian lama menghilang tiba-tiba muncul mengomentari DP BBM (lupa apa komentarnya, heee...). Agak kaget, entah angin apa yang membawanya, padahal sudah cukup  lama berteman di BBM tapi tak sekalipun kita saling menyapa. Sombong dia kan??Ehhh atau saling sombong ya?? Entahlah...mungkin masih berasa hawa-hawa saingannya, wkwk. Iya, saingan, tiga tahun satu kelas selalu bersaing berebut posisi juara kelas, tapi lebih sering aku yang menang, seingat dia cuma satu kali dia mengalahkan aku (aku nggak ingat, haha). Tidak banyak kenangan yang aku ingat tentangnya, paling yang sangat melekat diingatanku, hari Sabtu di setiap akhir semesternya selama tiga tahun berturut-turut aku akan berbahagia jika namanya yang terpanggil ke depan duluan, itu artinya masih ada harapan untukku berada di posisi lebih tinggi darinya setingkat atau dua tingkat (biasanya peringkat juara kelas dibacakan mulai dari posisi nomor 3). Ngeri ya, PeDeku terlalu menjulang tinggi waktu itu.


Ini DP BBM yang mengawali komunikasi 
Ehhh, sebenarnya nggak sepenuhnya kita saingan sih. Selama tiga tahun berturut-turut kita selalu jadi partner perangkat kelas, dia ketua dan aku bendahara, partner MC pagelaran SMP (sebelum dia mengingatkan, aku tidak ingat bahwa dialah partnerku waktu itu, haha). Kita juga pernah jadi partner speech contest SMP se Kota Padang sekitar tahun 2004 atau 2005 pokoknya waktu itu kami kelas 3 SMP, katanya sih dia yang merekomendasikan aku ke Mom Erma. Kalau peristiwa ini aku ingat betul siapa partnerku, karena ada kisah memalukan ketika ikut speech contest. Saking gengsinya, aku nggak mau pulang satu angkot bareng dia, padahal rumah satu arah. Dan kau tahu apa yang terjadi kawan? Aku, bocah Padang asli ini, salah angkot dan nyasar, hahaa. Seharusnya naik angkot warna ungu, ehhh yang dinaiki angkot warna biru tujuan Aur Duri. Bukan akunya yang buta warna, cuma pak supirnya meng-iyakan ketika ditanya, “ke TRB pak?” (TRB=Terminal Regional Bengkoang di Aie Pacah waktu itu), mungkin si Bapak salah dengar. Tinggalah aku sendirian penumpang angkot, bocah memakai baju pramuka dan tas selempang hitam, aku sudah cemas setengah mati karena tak tau itu daerah mana, maklum masih bocah belasan, anak rumahan, tak pernah naik angkot sendirian. Untung Pak Supir bertanggung jawab, aku diantarkan ke simpang Lubeg dan dinaikan ke angkot Aie Pacah plus ongkos angkotnya gratis. Terimakasih Pak, heheee. Sekian lama aku menyimpan cerita ini karena takut diketawain, tapi akhirnya cerita ini launching juga. Bagi yang mau ketawa ngakak silahkan, yang prihatin juga boleh, pesannya kalau naik angkot hati-hati ya, kalau ada teman pulang lebih baik bareng deh, nggak usah sok-sok gengsian, nanti nyasar. Okeh!!

Ahhh...cerita ini menyegarkan kembali ingatan tentang masa lalu ketika masih berseragam putih dongker. Bongkar-bongkar album lama dan ketemu lah gambar-gambar ini, hihiiiii....☺
Dua belas tahun lalu
Waktu umur masih belasan, Bukittinggi 2005


***
Semenjak komentarnya di DP BBM waktu itu komunikasi kita berlanjut, sesekali chatting dengan makhluk itu, sekedar cerita-cerita gaje (gak jelas, red) ntah apa yang dibahas. Tapi sedikitpun tak pernah terbayangkan bahwa dia yang akan menjadi jodohku. Karena benar-benar menganggap dia hanya sekedar teman lama plus saingan berat, tak lebih dari itu. Untuk sekedar suka pun tak terfikirkan, hahaa. Ow iyaa, waktu dia nge-chat di BBM, dia sempat minta dicarikan jodoh lho, entah ini modus kali ya. Padahal Apaknya mau menjodohkan dia dan aku, dia tidak tau ceritanya dan aku pun pura-pura tidak tau, sedikit tak mau tau lebih tepatnya. 

6 Mei 2016, tepat ketika ulang tahun Sheila on 7 ke 20, aku sok-sok an membuat kue ultah base cake brownies dan ngajakin Partai Rusuah ngumpul untuk nyicipin brownies hasil eksperimen ini. Dan pergilah kami “maengak-engak cantik” ke E*hai Gor. Setelah cukup lama cerita ngalor ngidul kemana-mana dan makanan pun hampir habis tiba-tiba ada BBM masuk (nggak pake bunyi, hp silent soalnya, hahaa). Rupanya dari si makhluk saingan berat, karena sebelum berangkat tadi aku lagi chatting dengan dia, tapi tak aku balas lagi, wkwk.
Dia: “Oiiikkk sombong kamu yo, sibuk kamu?lamo bana baleh BBM aku ma.”
Aku: “hahhaaaa...maaf, maaf...aku lagi “maengak-maengak” samo nak urang ko aa, kasiko lah kamu. Lah lamo ndak sobok kami kan.” (Ajakan ini beneran tak ada modus apapun, sumpeehh deehhh!!! Cuma iseng aja.)
Dia: “Lai buliah aku ka situ?”
****
Aku: “Oiiii, si A nio ka siko cek nyo aaa...aku lagi BBM an samo nyo.”
Marta: “Suruah lah nyo ka siko, Ta lah lamo lo ndak sobok nyo ma.”
****
Aku: “Lai, ka siko lah.”
Dia: “Yo bana lah ko aa, ka situ aku aaa, buliah baok kawan?”
Aku: “Buliah, lai ganteng kawan kamu?” (hahhaa...)
Dia: “Ganteng, aku ka situ yo.”
****
Widya: “eehhh kok namuah se nyo nyusul awak?” (mulai lirik-lirik aneh, karena dia tau ada sesuatu cerita tentang si makhluk ini).
Marta: “Pacaran kamu jo A yo?”
Aku : “Pacaran apo lo ko aaa, sambarang se ma.”
Widya:  “Ado urang tu ka dijodohan ma...” (Dan widya mulai bertingkah yang membuat kecurigaan upiak marta makin menjadi.)

Beberapa menit kemudian si kawan lama ini datang bersama teman gantengnya (ternyata adeknya, hahaa). Semakin rame lah ngobrol entah berantahnya, kalau bersama Partai Rusuah selalu rame apalagi kalau anggota lengkap. Topiknya masih nggak jauh-jauh dari saling bertukar kabar karena sudah lama tak bertemu. Tiba-tiba topik sampai ke baralek, si Marta ngebet minta dicarikan jodoh sama kawan lama ini. Aku pun ikut-ikutan, hahaa. Apapun acaranya si upiak ini adalah pencair suasana karena mulutnya selalu berkicau, ada-ada saja yang mau diceritakannya. Waktu itu entah apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba si upiak ini melontarkan pertanyaan ke Adek si kawan lama.

Marta: “Yu, kalau akak ko jadi kakak ipar Bayu lai nio yu?” (matanya mengarah ke aku, hahaa).
Aku: “Apo lahhh marta ko ko aaa...sambarang se”. (Di bawa ketawa ngakak aja...sumpeehh aku nggak salting ya.)

 Aku, Marta, Widya, Dia dan Bayu (searah jarum jam), 6 Mei 2016 Enhai GOR.

Setelah sholat ashar disuatu mesjid di sekitaran GOR mereka senyum-senyum kecil ke arah aku yang baru keluar dari mesjid. Senyum mereka mengundang penasaran entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, seolah-olah seperti menceritakan aku (dan ternyata memang aku yang diceritakan). Jadi, si Marta menanyakan ke si kawan lama cerita tentang perjodohan yang disebut-sebut Widya. Ehhh dia malah kaget, ndak pernah dijodohkan sama aku katanya. Itu gosip darimana. Ternyata dia tidak tau menau tentang cerita ancang ancang perjodohan itu. Aahhh preman rusuah ini bikin aku tengsin setengah mati. Gimana nggak tengsin coba, cerita ke kawan mau dijodohkan dengan si ini, ehh pas kawan konfirmasi ke orang nya langsung, dia tak tau, nggak pernah dijodohkan katanya. Kebayangkan tengsinnya? Hahahaa...
Cerita berawal dari mesjid ini

Setelah peristiwa itu, entah apa yang terjadi di hatinya. Tiba-tiba dia curhat panjang lebar ke Marta dan mendesak Marta untuk menyampaikan isi hatinya ke aku, ternyata ada sesuatu yang tersimpan dihatinya tentang aku. Ketauan kalau ternyata si kawan lama ini, katanya adalah penggemar rahasia aku dari rok masih dongker, wkwk. Katanya, dia mengagumi aku dari dulu, entah iya atau ndak, tak tau, :D. Suka-suka dia ajalah. 

Luar biasa bahagianya aku waktu itu karena tiba-tiba ditelpon Marta, bukan bahagia karena ada penggemar rahasia, bukan, tapi karena satu kejadian langka si upiak ini menelpon, membalas sms aja jarang apa lagi menelpon, ditelpon pun pasti ngangkatnya lama, tapi dia tetap sahabat aku ya, sahabat dari seragam merah putih. Kirain ada hal penting apa, tumben si upiak ini menelpon, ternyata cuma sekedar menyampaikan isi hati si kawan lama.  

  Aku hanya menanggapi dengan hahahihi karena waktu itu hati tertambat ditempat lain. Rasanya tidak mungkin apa yang diceritakannya itu benar karena si kawan lama ini masih chatting denganku dan tak pernah membahas tentang perasaannya sedikitpun, masih cerita gaje aja, sok tidak tahu apa yang terjadi. Beberapa hari setelah itu si Marta menelpon lagi dan masih tetap menanyakan hal yang sama, tentang bagaimana hati aku. Jawabanku masih sama, hahahihi nggak jelas, haha. Setelah tau ternyata ini orang ada perasaan, aku agak menjauh, chat nya sering tak ku balas. hehee...

Sementara itu, di rumah, berkali-kali Amak menyuguhiku dengan pertanyaan “baa, iyo jo inyo se? lai nio?” Jawabanku pun sama hahahihi dan “apo lah ko aa sambarang se, jaleh nyo kawan urang”. Amak pun bercerita beberapa hari lalu tanpa sengaja ayah dan amak bertemu dengan ayahnya, ayahnya setuju banget kalau aku dan dia disatukan (hahaa...bahasanya so sweet banget, disatukan). Kalau dipikir-pikir agak aneh rasanya proses ini, dia tidak tau apa yang terjadi antara keluargaku dan keluarganya, keluargaku pun tidak tau apa yang terjadi antara aku dan dia. Kok tiba-tiba semua terjadi serba kebetulan ya, ahh bukankah sebenarnya tidak ada sesuatu yang kebetulan, iya semua sudah diatur sama Sang Maha Pemilik skenario hidup, mungkin sudah seperti itu jalannya.   Si artis kehidupan tinggal menjalani dan mengikuti alur ceritanya. Tapi tetap aja kalau dipikir-pikir ujung-ujungnya jadi bikin geleng-geleng kepala, kok bisa?kok bisa yaa?kok bisa jadi kayak gitu?                                                                                                                                                                                                      
 21 Mei 2016, kali ini ayah yang serius menanyakan tentang dia, kalau sudah bapak-bapak yang satu ini bertanya, tak sanggup lagi aku menjawabnya dengan hahahihi. “Baa nak, iyo jo inyo se? lai nio jo inyo? ndak baa jo inyo tu do nak, dek ayah katuju bana, nyo elok laku, parangai nyo ndak macam-macam, rumah nyo lai dakek lo. Dek ayah kok dapek bialah jo yang dakek-dakek se (yang merasa tolong jangan senyum2 bacanya, jangan kegeeran ya, :P)”. “Baa nak...?ayah lah gaek juo, beko ndak basobok dek ayah lay”. Aku hanya diam seribu bahasa dan tetap lanjut menyuntikan tetes demi tetes jelly cair ke kanvasnya. Bulir-bulir bening ikut menetes dari mata, ahhh tak bisa aku jelaskan suasana hati kala itu. Waktu itu mau ngasih jelly art untuk ulang tahun @widya dan jelly pun gagal bentuknya amburadul nggak jelas, kacau, sama kacaunya dengan suasana hatiku.

     29 Mei 2016, siang itu si Apak datang ke rumah bertemu Amak, Ayah sedang tak di rumah. Terdengar samar-samar percakapan beliau karena kebetulan hari itu aku di rumah. Nampaknya serius benar, aku pun dipanggil keluar. Rupanya si Apak baru saja dari rumah kawan lamaku itu, beliau menanyakan secara serius ke ayahnya dan ke dia langsung. Kata Apak ketika ditanya mau atau tidak, dia senyum-senyum cengengesan dan langsung mengiyakan (dalam hati, tu lah iya dia langsung mau, kan dia juga lagi berusaha mendekati aku melalui Marta, ibaratnya gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba, :D). Sementara aku masih tetap saja hahahihi menanggapi cerita si Apak dan masih tetap sama tanggapanku “jaleh nyo kawan urang Pak...maso jo inyo lo”, hahaaa, masih ngotot kalau dengan kawan itu tak bisa berjodoh. Malamnya ayah dan amak pergi entah kemana, rasanya gerak gerik beliau sedikit mencurigakan, ketika ditanya mau kemana jawabannya mau pergi berobat, padahal tak ada yang sakit. Ehhh akhirnya ketauan kalau beliau berdua ke rumah si Apak, memastikan si kawan lama ini beneran mau atau tidak. Mereka menyusun rencana serius untuk menjodohkan kami, handeehh.

31 Mei 2016, si Marta lagi-lagi menelpon dan masih saja menanyakan hal yang sama seperti pertanyaannya beberapa hari lalu. Aku tetap menanggapi dengan hahahihi, sampai upiak ini marah-marah karena tanggapanku ketawa-ketawa nggak jelas terus. Mungkin kehidupannya juga sudah terusik gara-gara si kawan lama menelpon terus menagih jawabanku, sedangkan aku masih tetap dengan jawaban gaje hahahihi (maafken diriku Ta, haha), aneh kan kenapa Marta yang diterornya, kok nggak langsung bertanya ke aku aja. Sampai akhirnya terlontarlah kalimat “aku terserah Amak se lah Ta, iyo kecek Amak iyo lo dek aku”. Langsung saja upiak ini mengambil kesimpulan dan langsung lapor ke si makhluk itu, hadeewwww bener-bener lah, bikin geleng-geleng kepala.

1 Juni 2016 , malam itu Padang diguyur hujan deras tiba-tiba ada yang minta izin mau menelpon. Iya, si kawan lama ini yang izin mau menelpon, aku angkat telponnya dan terdengar grogi suaranya tak tau apa yang mau dibicarakannya, hahahaa. “Manga nelpon-nelpon aku?”(tanyaku dengan nada sedikit galak). Semakin gerogilah si makhluk ini. Tapi akhirnya suasana bisa cair dengan kegajeanku. Sampai pada akhirnya dia menjelaskan maksud dan tujuannya. “Lai nio kamu jadi istri aku?”, pertanyaannya waktu itu. Langsung saja aku ketawa ngakak menanggapinya, padahal dia sudah grogi setengah mati. Sambil ngakak aku kembali bertanya “harus dijawab ko, lai ado pilihan jawabannyo?”. Dengan cengengesan dia bilang, “lai, pilihannyo A. Iyo, kamu nio jadi istri aku, B. Iyo, kamu nio jadi istri aku, C. Iyo, kamu nio jadi istri aku”. Ondeehh mandeee, maksa sekali makhluk ini, wkwk. Ya udah daripada makin melebar nggak jelas aku contreng aja semua jawabannya, tapi sebenarnya hati masih galau, belum mantap memilih si kawan lama ini.

Sementara yang terjadi dengan orang tuaku mereka menganggap aku setuju. Sepertinya menurut beliau si kawan lamaku ini adalah pilihan yang tepat, karena keluarga sudah saling mengenal dan yang pasti karena jarak rumah tidak terlalu jauh. Padahal cita-citaku berjodoh dengan laki-laki baik-baik yang memiliki kampung halaman dan kalau bisa bukan dengan orang Minang. Ini sekedar cita-cita karena terobsesi pengen merasakan bagaimana sensasi mudik pas hari raya. Maklum, aku dilahirkan dari orang tua warga Padang, semua keluarga di Padang, aku pun lahir dan besar di Padang, tak pernah sekalipun merantau. Jadi satu-satunya tempat pulang kampung adalah akhirat, hehee. Ada-ada saja cita-citaku kawan.

Meski orang tua sudah saling serius dan akan bergerak mengatur semuanya tapi hati masih tetap galau dan belum mantap. Tak sekalipun aku mengiyakan pertanyaan orang tuaku tentang mau atau tidak dengannya, menolak pun tidak, galau. Hari itu aku telfonlah si Meri, sahabat yang satu ini jagonya untuk berbagi kegalauan, apapun masalahnya dia selalu bijak menanggapi. Hampir 2 jam lebih aku diceramahinya. Diberikannya contoh kasus ini itu, ibuk kosnya lah, temannya lah bla bla blaaa yang kasusnya mirip seperti kasusku...panjang sekali ceramahnya. “Bayangan se lah dek kamu, kalau tetap juo kamu jo cita-cita kamu tu, anak amak kamu 2 urangnyo, tu kalau jo urang yang jauh tu ka pai lo kamu merantau, sempat kok sakik beko sia yang ka maurus gaek kamu. Kalau dakek tu kan bisa senyo. Kecek kamu sanang marantau tu,  i (panggilannya ke dirinya) se ko aaa kok dapek tingga di Padang ko ma. Jadi, pikia-pikia bana lah lu, pasti gaek kamu tu lah banyak pertimbangannyo memilihkan jodoh untuk kamu.” Kurang lebih seingatku begitu ceramahnya, tapi sebenarnya masih panjang lagi. Kemudian aku disuruhnya berdoa minta dimantapkan hati ke Sang Maha Pemilik Hati. Katanya hati itu bukan punya kita, jadi yang punya hati berhak membolak balikannya. Setelah direnungkan dalam dalam dan aku lakukan perintah upiak ini alhamdulillah akhirnya hatiku mantap menjatuhkan pilihan ke kawan lama. Ini beneran nggak pakai hahahiihi lagi. Aku hapus semua cita-cita dan obsesiku. Hatiku sudah mantap memilihnya, meski ada yang tersakiti dengan pilihan ini, tapi semua harus berjalan. 

 3 Juni 2016 beberapa hari menjelang puasa ramadhan, orang tuaku bersama si Apak langsung mendatangi rumah si kawan lama, menemui ayahnya untuk rencana yang lebih serius. Iya, begitu adatnya di kampung kami, pihak perempuan lah yang meminang ke rumah laki-laki (agak-agak gimana gitu yaa, tengsin). Ketika orang tuaku ke rumahnya, katanya dia kaget luar biasa (sok kaget kayaknya lah, padahal senang mungkin tu, wkwk). Waktu itu dia nge-chat  aku di BBM, “oiikk ayah kamu di rumah aku aaa...”. Tapi BBM nya tidak aku tanggapi, aku terus melanjutkan membuat jelly art karena waktu itu ada orderan jelly. Sepulang ayah dan amak dari rumahnya, barulah aku balas BBM nya, “ma lo...ayah jo amak aku se di rumah kini ko aa, salah urang kamu ndak?”. Hahhaaa, selow pura-pura tidak tahu. Waktu itu, aku masih protes ke Amak, kok harus sama dia, kok harus sama yang satu kelurahan, terlalu dekat sekali rumahnya. “Aaaaa baok lah nyo marantau bisuak, jauh jadinyo ma”, kata Amak. Hari itu baru aku ceritakan ke Amak dan Ayah kalau sebenarnya si kawan lama ini sebenarnya sudah mendekati aku juga melalui Marta.  “Ooowww patuiklah langsung nio nyo yo, lah di intai-intainyo juo kironyo”, celetuk amak. Tertawalah beliau berdua.

4 Juni 2016, Partai Rusuah masih tanpa member lengkap maengak-engak cantik lagi, kali ini ada tambahannya, iya si kawan lama ditodong Marta traktir pecel ayam karena Marta sudah melancarkan aksinya, hahaaa. Waktu itu aku dan dia masih selow, masih seperti tak terjadi apa-apa, hahaaa. Iya lah, kan kita cuma kawaan, iyaa kawaann, calon kawan hidup, oppss, hehee.

***

Lebaran kedua, pertama kali dia ke rumahku, ehh nggak dink waktu SMP sering juga main ke rumah. Pertama kali ke rumah dengan status yang berbeda maksudnya, hehe. Katanya, pas sampai di depan rumah terasa lututnya goyah, seakan-akan mau copot (ndeehh lebay bana ma Da), dia grogi, padahal kan cuma ke rumah kawan lama masa pakai grogi segala. Sebenarnya aku pun grogi, haha. Waktu itu aku membuat jelly art untuk dibawa ke rumahnya, jelly untuk camer ceritanya nih. Tangan ini seakan-akan ada gempa aja pas pegang suntikan, “manggaretek” dan hasil jellynya pun kurang maksimal, bunganya kemana-mana. Warna latarnya pun kacau, nggak jelas bentuknya. Tapi alhamdulillah yang menerima tetap senang kok, tu lah iyaa kan jelly buatan calon menantu #pede, haha.

Beberapa hari setelah lebaran, lupa tanggalnya, orang tuaku ke rumahnya lagi. Kalau nggak salah proses ini namanya “naiak siriah”. Di Minang, ini adalah pertemuan keluarga untuk penentuan hari membuat “silamak tunangan”. Masih banyak lagi prosesnya nih, iya, begitulah adat istiadat kami. Karena kami berdua terlahir di daerah yang sama, dari keluarga yang adat istiadatnya masih sama-sama kental, jadi mau tidak mau semua proses harus diikuti. Dari pertemuan ini telah ditetapkanlah hari “ma anta silamak”.

25 September 2016, dua minggu setelah lebaran haji, sampai lah di hari “maanta silamak”. Ini adalah hari dimana keluarga perempuan membuat silamak (ketan, red) lengkap dengan luo (unti kelapa), apik ayam dan kawan-kawannya yang jumlahnya puluhan untuk diantarkan ke rumah keluarga laki-laki  (lelah amak dedek Bang, :D). Semua masyarakat kampung  di undang untuk saling membantu, beramai-ramai membuat silamak dan kawan-kawannya. Untuk yang masih ada hubungan keluarga dekat akan datang membawa beras pulut dan satu ekor ayam. Beras pulut dan ayam-ayam itu akan dimasak menjadi puluhan piring silamak dan apik ayam. Rempong ya adat di kampung kami, iya rempong, aku adalah salah satu yang kurang setuju dengan acara ini. Rasanya terlalu merepotkan orang banyak. Tapi, kalau kata emak-emak di kampung, dari sinilah terciptanya rasa kekeluargaan, kebersamaan dan gotong royong antar masyarakat. Hmmmm...iya juga sih.  Prosesi “maanta silamak ” merupakan pertemuan ninik mamak dan keluarga besar kedua belah pihak di rumah pihak laki-laki untuk penentuan tanggal pernikahan atau hari “baralek”. Tapi, untuk kasus kami, pas hari ini tidak ditemukan kesepakatan tanggal baraleknya, aneh, hohooo. Setelah kami berdua berdiskusi dan menyepakati tanggalnya, akad nikah 10 Februari 2017. Alhamdulillah keluarga besar juga langsung menyetujuinya. NB: Tanggal ini dipilih bukan karena berdekatan dengan hari valentine, tapi karena berbagai pertimbangan, salah satunya ada bentrok atau tidak dengan hari baralek tetangga sekitar. Maklum kita sekampung kalau sampai bentrok kacau.




Bersambung....
                                                                                               
                                                                                                                                                                         ^_^









Jambu Kaliang